|   English
Informasi Terkini


Sabtu, 21 Oktober 2017
TIGA TAHUN NAWACITA, BIDANG PERHUBUNGAN UDARA BERHASIL TERBANG TINGGI
JAKARTA - Dalam program Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sejak pemerintahannya dipergantian tahun 2014 / 2015 lalu, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengejawantahkan mandat melalui realisasi  Nawacita nomor 3 dan Nawacita nomor 7.

Dalam Nawacita nomor 3 direalisasikan kerja spartan untuk Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan RI

Sedangkan Nawacita nomor 7 tertuang program: Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Untuk Nawacita nomor 3, beberapa program yang diwujudkan adalah pengembangan Bandar Udara di wilayah pinggiran atau perbatasan Indonesia, rawan bencana dan daerah . Serta pengembangan pertumbuhan keperintisan melalui pengembangan rute perintis dan subsidi BBM keperintisan.

Sedang untuk Nawacita nomor 7, program-program yang diwujudkan adalah Pembangunan  15 Bandar Udara baru serta revitalisasi bandara yang kurang aktif; Pembangunan “Jembatan Udara” dengan cara pembukaan Rute Bandar Udara yang terintegrasi Tol Laut;  Rehabilitasi dan Pembangunan Terminal dan Landas Pacu; Pengembangan Bandar Udara di selatan Jawa; Peningkatan Jumlah Armada Pesawat Udara; Peningkatan Jumlah Produksi Penumpang dan Kargo; Peningkatan Pelayanan Penerbangan melalui penggunaan teknologi terkini “Perizinan Online” dan Peningkatan On Time Performance; serta  Mewujudkan “Good Government” serta pemenuhan terhadap butir2 regulasi penerbangan Internasional melalui peningkatan nilai pemenuhan Safety dalam berbagai protocol Audit ICAO USOAP dengan capaian nilai "bergengsi" jauh diatas nilai rata2 dunia Internasional serta Mempertahankan predikat “Kategori 1” oleh Federal Aviation Administration (FAA) AS.

Menurut Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso, selama tiga tahun ini bidang Perhubungan Udara sudah berhasil mewujudkan dan merealisasikan berbagai program  yang dicanangkan tersebut.

“Alhamdulillah dalam tiga tahun ini kita sudah terbang tinggi dan on the track. Banyak program Nawacita ke-3 dan ke-7 yang berhasil kita realisasikan dengan baik. Semua itu kami persembahkan untuk bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini,” ujar Agus.

Sebagai regulator penerbangan, Ditjen Perhubungan Udara sejak tahun 2015 telah mempermudah sistim perizinan bagi segenap operator baik itu operator maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Citilink, Batik Air, Wings Air, NAM Air dan sebagainya juga operator Airport seperti AngkasaPura 1, Angkasa Pura 2, UPBU Perhubungan Udara, maupun operator navigasi penerbangan sepertai Airnav Indonesia dengan melakukan penerbitan izin secara online. Pada tahun 2016 perizinan online tersebut telah dipakai untuk pengurusan perizinan personel operasi pesawat udara, perizinan aviation security dan perizinan pas bandar udara. Pada tahun 2017 ini dilakukan optimalisasi proses perizinan-perizinan tersebut.

Menurut Agus, dalam merealisasikan program di Perhubungan Udara tersebut, Ditjen Hubud selalu berpedoman pada prinsip 3S + 1 C yaitu  Keselamatan (safety), Keamanan (security), Services (pelayanan) dan Compliance (sesuai dengan aturan yang berlaku internasional dan nasional).

“Untuk keselamatan, nilai kita dalam audit keselamatan  Organisasi Penerbangan Internasional (ICAO USOAP) dari tahun ketahun terus meningkat menuju angka yang bagus dan bergengsi dimata penerbangan Internasional. Dimulai dari ketika audit 2014 hanya  45,6 % di tahun 2016 sedikit naik menjadi 51,6 %, untuk tahun 2017 ini ada lompatan drastis dengan target capaian angka diatas 80% (dalam preliminary saja sudah tercapai 81,15% ) ini merupakan capaian tertinggi selama kurun waktu lebih dari 10 tahun terakhir ini. Selain itu kita juga masuk dalam Kategori 1 dalam penilaian Otoritas Penerbangan AS (FAA) sejak Agustus 2016 lalu,” lanjut Agus.

Dalam pelayanan, juga telah terjadi peningkatan yang sangat pesat. Hal ini bisa dibuktikan dari peningkatan jumlah penumpang pesawat dan kargo udara. Untuk penumpang, pada tahun 2015 jumlah penumpang domestik adalah 76,6 juta dan internasional 20,9 juta. Tahun 2016, domestik meningkat menjadi 89,2 juta dan internasional 23,3 juta, tahun 2017 ini ditargetkan jumlah penumpang domestik mencapai 94,7 juta dan internasional mencapai 12,4 juta.

Sedangkan untuk kargo udara yang diangkut pada tahun 2015 domestik adalah 564.048 ton dan internasional 87.067 ton. Tahun 2016, domestik mencapai 604.339 ton dan internasional 111.595 ton. Pada tahun 2017 ini ditargetkan jumlahnya untuk domestik mencapai 672.434 ton dan internasional mencapai 150.847 ton.

Untuk kebandarudaraan, hingga tahun 2017 ini telah berhasil dibangun 7 bandara baru untuk melengkapi airport yang lain sehingga jumlahnya mendekati angka 300 airport diseluruh Indonesia, ketujuh airport tersebut yaitu di Anambas, Namniwel, Miangas, Morowali, Werur, Maratua dan Koroway Batu. Selain itu juga dilakukan pembangunan dan rehabilitasi  landasan pacu, apron, taxiway dan terminal di beberapa bandara yang sudah ada untuk peningkatan pelayanan.

“Dengan pembangunan dan rehabilitasi kebandarudaraan ini, cakupan wilayah Indonesia yang dilayani penerbangan udara pada tahun 2017 kita targetkan mencapai 90 persen, meningkat dari tahun 2015 yang hanya 62,43 persen, hal tersebut sangat memungkinkan karena dalam musim summer ini saja telah diterbangi rute baru sebanyak 66 rute baru” ujar Agus lagi.

Untuk itu, Ditjen Perhubungan Udara juga  masih tetap memberikan anggaran bantuan (subsidi) untuk penerbangan perintis ke daerah-daerah yang membutuhkan.

“Penerbangan perintis ini gunanya untuk membuka transportasi ke daerah pinggiran terluar, terdalam dan rawan bencana yang belum maju perekonomiannya. Dengan penerbangan perintis kita harapkan daerah tersebut menjadi ramai dan maju ekonominya. Jika sudah maju dan ramai, penerbangan perintis kita jadikan komersial dan selanjutnya anggaran subsidinya kita alihkan ke tempat lain yang membutuhkan,” ujar Agus.

Pada tahun2015, kota yang terhubungkan dengan penerbangan perintis adalah 200 kota. Tahun 2016 turun menjadi 109 kota dan tahun 2017 menjadi 123 kota.  Perubahan ini menandakan ada beberapa daerah yang sudah maju dan berkembang serta tidak menjadi daerah rintisan lagi.

Kerjasama Operator

Dalam keberhasilan mewujudkan program Nawacita ini, Agus Santoso  juga tak lupa menyampaikan terimakasih kepada para operator penerbangan yang telah ikut bekerjasama, seperti misalnya maskapai penerbangan, pengelola bandara dan pengelola navigasi penerbangan.

Para maskapai penerbangan baik yang mempunyai AOC 121 maupun 135 dalam tiga tahun ini terus menambah jumlah pesawat. Pada tahun 2015, jumlah pesawat yang terdaftar di Ditjen Perhubungan Udara adalah 866 pesawat berbagai jenis. Tahun 2016 jumlahnya naik menjadi 903 pesaat dan tahun 2017 ini ditargetkan menjadi 920 pesawat.

Maskapai penerbangan juga berhasil meningkatkan ketepatan waktu penerbangan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, rata-rata ketepatan waktu (on time performance/ OTP) adalah 78,49 persen dan tahun 2016 mencapai 82,67 persen. Pada tahun 2017 ini, ditargetkan OTP menjadi 85 persen.

Pengelola bandara komersial nasional juga berhasil meningkatkan prestasinya di tingkat dunia. Seperti misalnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng pada tahun 2017 ini mendapat penghargaan dari Skytrax sebagai Bandara Paling Berbenah Di Dunia. Selain itu juga ada Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang menerima penghargaan sebagai Bandara Bintang Tiga Terbaik di kawasan Asia Tenggara. Sedangkan Bandara Internasional Kuala Namu mendapatkan penghargaan sebagai Bandara Bintang Empat Kedua Terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Dari sisi Navigasi penerbangan, AirNav Indonesia sebagai pengelola navigasi penerbangan nasional berhasil mengcover 100% Pelayanan Navigasi Nasional dalam upaya peningkatan penyelenggaraan penerbangan yang  Sefety, Security, Service and Complience. Terdiri dari  mengcover  90%  Wilayah Nusantara dalam coverage radar system , mengcover  92%  Wilayah Nusantara dalam coverage ADSB system  dan mencover  10% tersisa dengan ADSC/CPDLC (Automatic Dependent Surveillance Contract/ Control Pilot Data Link Communication).

“Semua yang sudah kita capai itu berkat kerja keras, kerja cerdas dan kerja bersama yang baik dari semua pihak. Kita akan terus tingkatkan lagi kerjasama ini di tahun-tahun depan sehingga program Nawacita tercapai seluruhnya. Semua itu demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia,” pungkas Agus. (HUMAS)
Informasi Lain
Kamis, 9 Agustus 2018
PELAYANAN PENERBANGAN DI MALANG DAN BANYUWANGI TETAP BEROPERASI NORMAL PASCA GEMPA MALANG
Jakarta - Pasca gempa bumi berkekuatan 5,2 SR pada Rabu (08/08) siang yang mengguncang Barat Daya Kabupaten Malang Bandara Malang dan Banyuwangi ... selengkapnya
Selasa, 7 Agustus 2018
CEGAH NARKOBA, DITJEN HUBUD SOSIALISASIKAN PERANG LAWAN NARKOBA PADA PERSONIL PENERBANGAN
Cengkareng - Dalam rangka pencegahan penyalahgunaan narkoba pada sektor penerbangan, Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara, M. ... selengkapnya
Minggu, 5 Agustus 2018
PENERBANGAN DI BALI DAN NTB TETAP NORMAL PASCA GEMPA DI LOMBOK UTARA
Jakarta - Pasca gempa di Lombok Utara berkekuatan Mag 7.0 SR pada hari ini pukul 19:46:35 WITA, sektor penerbangan di Bali dan Nusa Tenggara Barat ... selengkapnya