Informasi Terkini


Sabtu, 14 Juli 2018
KEMBANGKAN TOL UDARA UNTUK MENEKAN DISPARITAS HARGA DI WILAYAH PEDALAMAN
Jakarta - Pembangunan dan pengembangan perekonomian nasional harus bisa dirasakan oleh segenap rakyat Indonesia secara merata. Baik itu yang berada di bagian terluar, terdalam, terisolir dan yang rawan bencana. Namun tidak semua wilayah tersebut bisa terjangkau oleh transportasi secara umum. Salah satu transportasi yang bisa dikembangkan untuk menjangkau wilayah tersebut secara cepat adalah transportasi udara. Memang transportasi udara untuk keperluan khusus tersebut juga ada keterbatasan. Di antaranya harus menyediakan prasarana seperti runway sepanjang 900-an meter untuk lepas landas pesawat. Juga kapasitas angkutnya yang terbatas karena pesawat yang digunakan juga kecil dan biaya pengoperasiannya yang mahal. "Namun negara harus tetap hadir di daerah-daerah tersebut sehingga pemerataan pembangunan yang saat ini sedang digalakkan Pemerintah bisa dinikmati juga oleh masyarakat setempat. Untuk itulah Ditjen Perhubungan Udara membuat terobosan dengan membuat program Tol Udara dengan sistim subsidi," ujar Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso. Menurut Agus, program Tol Udara merupakan perintah Presiden Joko Widodo pada akhir tahun 2016 lalu. Tol Udara merupakan kelanjutan dari Tol Laut, di mana barang-barang yang telah diangkut oleh kapal dalam Tol Laut akan dilanjutkan ke daerah-daerah tujuan perintis menggunakan pesawat udara. Program Tol Udara merupakan perwujudan program Nawacita Pemerintahan Joko Widodo. Terutama Nawacita ke-3 yaitu Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Serta Nawacita ke-7 yaitu Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Menurut Agus, ada dua sasaran dari program Tol Udara ini. Pertama, menjamin ketersediaan barang dan untuk mengurangi disparitas harga bagi masyarakat. Kedua, menjamin kelangsungan pelayanan penyelenggaraan angkutan barang ke daerah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan. "Harga kebutuhan pokok yang tinggi di pedalaman itu karena biaya operasional transportasinya yang mahal. Oleh karena itu kami memberikan subsidi biaya operasional kepada maskapainya sehingga tarif transportasi rendah dan barang yang diangkut juga tidak naik harganya, ujar Agus. Subsidi yang diberikan oleh Ditjen Hubud, lanjut Agus, mencapai sekitar 600-700 miliar rupiah per tahun. Subsidi diberikan kepada maskapai yang lolos seleksi untuk menjadi operator Tol Udara tersebut. Hingga saat ini sudah dilaksanakan program Tol Udara di 3 tempat yaitu Papua, Kalimantan dan Sulawesi. Terdapat lebih dari 51 daerah atau distrik di pedalaman Papua, Kalimantan dan Sulawesi yang menjadi tujuan Tol Udara ini. Sebagai contoh di Papua, Tol Udara dilakukan di antaranya dari kota Timika, Wamena dan Yahukimo menuju daerah dan distrik di Korupin, Puncak Jaya dan sebagainya. (HUMAS)
Informasi Lain
Senin, 22 April 2019
INDONESIA GANDENG ICAO UNTUK KEMBANGKAN PENERAPAN NAVIGASI PENERBANGAN BERBASIS KINERJA
Bali - Peningkatan bisnis penerbangan nasional menyebabkan semakin banyaknya pesawat yang beroperasi di langit Indonesia setiap harinya. ... selengkapnya
Senin, 22 April 2019
ERUPSI GUNUNG AGUNG, DITJEN HUBUD UPDATE KONDISI PENERBANGAN DI BANDAR UDARA I GUSTI NGURAH RAI BALI
BALI – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV Bali menyatakan ... selengkapnya
Minggu, 21 April 2019
ANCAMAN HUKUMAN BAGI SIAPA PUN YANG BERCANDA MEMBAWA BOM DI PENERBANGAN
Jakarta - Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti menegaskan kembali kepada seluruh masyarakat untuk tidak menyampaikan informasi ... selengkapnya